Andrew
seorang pengusaha kaya di suatu kota besar. Seseorang bertanya kepada
andrew :
"Apakah di kota ini masih ada orang lebih kaya dari anda?"
"Hanya ada satu." jawab Andrew.
"Apakah di kota ini masih ada orang lebih kaya dari anda?"
"Hanya ada satu." jawab Andrew.
---Andrew mulai bercerita---
Bertahun-tahun
yang lalu sebelum aku sekaya ini, aku pergi ke pusat perbelanjaan. Aku
membaca surat kabar dan tertarik dengan salah satu koran di sana. Ketika
aku akan membelinya, uangku tidak mencukupi. Tiba-tiba seorang pria
berkulit hitam memberikan koran tersebut,
"Ini untuk anda, pak" katanya.
"Tapi uangku tidak cukup" jawabku.
"Tidak apa, aku memberikannya untuk anda" kata pria itu.
---
Enam
bulan kemudian di tempat yang sama, aku tertarik lagi dengan salah satu
surat kabar di sana. Tetapi aku tidak dapat membelinya karena uangku
tidak cukup dan pria yang sama itu juga memberikan kepadaku.
---
Dalam
perjalanan pulang aku berkata dalam benakku :
'siapa pria itu aku tidak
mengenalnya tapi ia memberi sesuatu kepadaku di saat aku membutuhkannya,
sudah pasti dia pria kaya'
---
Singkat
cerita, aku dulu tinggal di desa pelosok di mana masih terdapat banyak
hutan-hutan. Pekerjaanku sehari-hari hanyalah pemanen karet.
Suatu
hari, aku melihat banyak bongkahan kayu bekas di hutan terdekat dari
rumahku. Aku berpikir, bagaimana caraku mengubah kayu-kayu bekas ini
menjadi barang bernilai jual.
Lalu
aku membawa kayu-kayu bekas itu ke rumahku. Sepulangku dari hutan karet
aku iseng-iseng sembari mengisi waktu luangku dengan belajar memahat
kayu.
---
Hari
demi hari aku menelateni memahat kayu untuk ku jadikan barang. Suatu
ketika, datanglah bapak dari tetangga sebelah ke gubuk kecilku. "Pak,
apakah bapak bisa membuatkan saya kursi ukir?" tanya bapak
"Wah, saya baru belajar memahat pak hasilnya pun tidak begitu bagus" jawabku.
"Ah, tak masalah. Jika sudah jadi tolong antarkan ke rumah saya ya" pintanya.
---
3
hari berlalu, masih setengah jadi kursi ukir permintaan bapak itu.
Bagaimana tidak, ini cukup sulit bagi pemahat pemula sepertiku.
Hari ke-6 kursi ukir sudah hampir jadi. Keesokan harinya aku tinggal finishing saja.
Kemudian,
aku mengantarkan ke rumah bapak itu.
"Wah, tukang pahat pemula seperti
bapak dapat di bilang hasil pahatannya rapi, ini sedikit uang untuk
bapak sebagai upah ganti membuat kursi ukir" katanya.
"Terimakasih pak" jawabku.
---
Langit mendung, gemuruh dan petir sedikit berkolaborasi tanda hujan akan datang akupun bergegas pulang.
Hari
demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan sedikit demi sedikit
warga kampung mulai memesan kursi dan meja kepadaku.
"Daripada beli di
kota lebih mahal." ujar salah satu warga di daerahku.
Lewat
promosi dari mulut ke mulut hasil pahatanku mulai terkenal di kampung
karna hasil pahatanku yang rapi menurut warga kampung.
---
Lalu
aku teringat satu kalimat di koran pemberian pria yg tak ku kenal
'Jangan takut akan kegagalan, tapi takutlah karena tidak berani
mencoba'
Kemudian aku mengubah pola pikir ku dan memberanikan diri pergi ke kota untuk menjual hasil karyaku.
Singkat cerita, tibalah aku di kota besar dengan modal tekad dan sedikit uang untuk aku hidup di kota besar ini.
Selang
beberapa hari aku mulai menjajaki hasil karyaku menggunakan sepeda
panggul keliling kota. Namun, tidak satupun yang membeli daganganku.
Aku
tak menyerah aku mulai berpikir bagaimana jika aku berusaha dengan
mempromosikan dari rumah ke rumah dari pintu ke pintu hasil produkku dan
menerima pesanan sesuai permintaan konsumen.
Lalu,
mulai ada satu peminat untuk dibuatkan meja rias sesuai permintaannya yang
ku gambar sketsanya agar lebih menarik layaknya Pemborong yang membuat
sketsa gambaran rumah yang akan di bangun sesuai permintaan konsumen.
Hari
terus berganti, usahaku mempromosikan barang dari pintu ke pintu tetap
ku jalani dengan membawa barang setiap harinya entah itu meja atau kursi
menggunakan sepeda panggul. Tak banyak yang ku bawa hanya 1-2 produk
saja setiap harinya.
---
3
tahun tak terasa aku menginjakkan kaki di kota besar yang menjadi
tempatku mengadu nasib. Lama kelamaan banyak orang yang mulai minat
dengan produkku dan tertarik untuk membelinya dengan harga yang tentunya
lebih murah dari Toko Furniture.
"Yah
dengan harga yg jauh lebih murah dari Toko mebel barang produksi bapak
juga tidak kalah rapi dan bagus" ujar salah satu warga di kota itu.
Seiring
berjalannya waktu aku mengubah lagi pola pikirku bagaimana aku harus
memiliki target dalam hidup dan upaya untuk mencapai target itu.
Hasil
jualanku dengan sepeda panggul ku sisihkan sebagian untuk di tabung,
dan untuk ku jadikan modal usaha. Ketika malam tiba kebanyakan orang
menghabiskan untuk beristirahat tapi tidak denganku. Malam hari ku
gunakan untuk memahat kayu.
---
5
tahun berlalu, aku mencoba untuk membuka toko furniture kecil-kecilan
dan usahaku pun mulai berkembang. Tapi aku tidak langsung puas.
Keuntungan yang ku peroleh ku sisihkan untuk memperluas toko ku dan
mulai menambah inovasi dan kreasi produk yang ditawarkan tidak hanya
meja dan kursi. Aku juga memperkerjakan orang.
---
7
tahun berlalu usahaku berdiri, banyak sudah lika-liku yang terjadi
sebelumnya. Ada yang memesan barang dan ketika barang sudah jadi orang
tersebut kabur begitu saja. Saat itu aku tidak memakai sistem pencatatan
aku hanya modal percaya. Akhirnya ku putuskan untuk menggunakan buku
catatan kecil awalnya. Hingga akhirnya aku bisa membayar jasa untuk
seorang akuntan dalam bisnisku.
Suatu
hari aku duduk di warung kopi dan mendengar perbincangan dua orang
lelaki.
"Bagaimana cara memasarkan produk ini agar dikenal banyak orang
bukan hanya di daerah ini saja tapi sampai ke luar kota mungkin bisa
kita gunakan jasa pemasangan iklan di TV"
Lalu aku berpikir :
"Mengapa aku tidak mencoba untuk memasarkan usahaku lewat media cetak seperti koran?"
Keesokan harinya aku pergi ke percetakan koran untuk memuat iklan produkku.
Tidak
langsung membuahkan hasil dari iklan produk yang ku muat di koran. Aku
terus melakukan itu bahkan aku sampai membuat brosur dan menyebarluaskan
ke warung-warung, rumah-rumah dengan menggunakan kalimat promosi
"Diskon hingga 50%" Memang, manusia pasti akan tergiur dengan yang
namanya "Diskon" apalagi "Diskon besar-besaran."
Usahaku dengan
mempromosikan itu berbuah sedikit demi sedikit.
--
12 tahun berlalu, usahaku sudah mulai di kenal di kota itu dan aku mampu membuka cabang-cabang di berbagai daerah kota tersebut.
--
Setelah
15 tahun, akhirnya aku sudah menjadi Pengusaha Furniture dan aku
memutuskan untuk mencari pria yang dulu memberiku koran secara
cuma-cuma. Setengah tahun mencarinya, dan aku menemukannya.
Mengapa aku
mencarinya? Berkat koran yang diberikan secara cuma-cuma padaku, aku bisa
mengubah pola pikir ku dan berusaha untuk bersaing dalam menggapai
mimpiku dan tidak takut akan kegagalan. Akhirnya aku menemukan pria itu
di sebuah rumah makan dekat pusat perbelanjaan tempat Ia memberiku koran.
Awalnya aku bingung "Apakah ini pria yg dulu
memberiku koran?" batinku
Lalu aku menghampiri pria itu.
"Kamu tahu aku?" kataku.
"Iya aku tahu anda, anda adalah pengusaha kaya yang terkenal di suatu kota besar" jawab pria itu.
"Dua
kali kamu sudah memberiku surat kabar gratis, sekarang aku mau
mengimbangimu. Apa yang kau inginkan katakanlah, aku akan memberikannya" ujarku.
Lalu pria itu menjawab "Anda tidak dapat mengimbangiku"
Aku bingung dan bertanya, "hah? Bagaimana bisa?"
Pria
itu berkata, "Aku memberikan sesuatu kepada anda ketika aku miskin,
sedangkan anda mau memberikan sesuatu kepada saya saat anda menjadi
kaya. Jadi, bagaimana anda dapat mengimbangiku?"
---
Lalu
Andrew menutup ceritanya : "Ku rasa pria berkulit hitam itu lebih kaya
daripada aku, karena dia memberi dari kekurangannya. Tetapi aku memberi
dari kelebihanku."
---
dan yang paling menyayat hati adalah "Kau tidak bisa mengimbangiku" kalimat itu mungkin terdengar sensitive bagi pendengar.
Jadi, pesan moral yang bisa disampaikan dari cerita di atas "Memberi bukan ketika kita lebih, tapi ketika kita dalam kekurangan"
Good story❤
BalasHapus