Mengapa aku harus sembuh dari luka yang bukan salahku ? Ada kalanya hidup memberi kita pelajaran yang menyakitkan—sakit yang datang tanpa peringatan, menghancurkan kenyamanan yang pernah kita rasakan, dan meninggalkan luka yang tak mudah sembuh. Rupanya mencintai someone completely isn't enough too. Supporting each other isn't enough as well. Mengetahui sesuatu yang harusnya tidak diketahui juga seolah dunia berhenti berputar. Rasanya seperti ada yang mencabut seluruh fondasi yang telah kubangun dengan susah payah, dan aku terjatuh, tak tahu ke mana harus melangkah. Then, how do we say goodbye to someone who's been with us for our whole damn life? Bukankah di umur yang sudah matang ini, kita hanya perlu seseorang yang bisa berjalan searah bersama ? Tak peduli seberapa banyak kita kehilangan sesuatu dalam hidup, ku sendiri pun yakin di hati kecil kita masih berharap ada hal baik di ujung sana. Namun, jika pada akhirnya kita menyerah, yakini sekitarmu, bahwa kita ...
Hi, Peeps! Ternyata sudah lama saya tidak menuangkan isi pikiran saya di sini yah, bagaimana tidak, mahasiswa setengah pekerja ini jangankan menulis blog sendiri, menulis skripsinya saja ogah-ogahan harus ada perang diri dahulu sebelum menyentuh skripsi yang rasanya tidak ada ujungnya. Ternyata skripsi dan hidup tidak jauh berbeda, kita sudah melakukan yang terbaik pun tetap di uji dosen untuk mengubah ke yang lebih baik lagi. Eits, kali ini saya tidak akan panjang lebar menceritakan skripsi ini yah. Bagaimana keadaan kalian para readers? sudahkah kalian tersenyum hari ini, sudahkah kalian bersyukur hari ini ? sudahkah kalian lebih kuat dalam menghadapi dunia yang semakin kejam ini ? Kita yang tersesak beriring kabut, hari-hari yang kita jalani kita pasti selalu berharap ada yang bermakna, menginginkan kembalinya senyum yang pergi s ecepat seperti di lahirkan lagi. Sedikit ku ceritakan kehidupan tentang diriku, yang tidak bisa ku ceritakan pada orang lain secara lisan, dan d...